Bila kau tak tahan lelahnya belajar, maka kau harus tahan menanggung perihnya kebodohan (Imam Syafi'i)

Tampilkan postingan dengan label Catatan Guru Penggerak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Catatan Guru Penggerak. Tampilkan semua postingan

Jumat, 01 November 2024

Demontrasi Konstektual 3.2 Pemimpin Pembelajaran dalam Mengelola Sumber Daya

 Assalamualaikum...

Analisis Video Praktik Baik 

Tujuan Pembelajaran Khusus

  1. CGP dapat menganalisis visi dan prakarsa perubahan dari tayangan video praktik baik yang ada.
  2. CGP dapat mengidentifikasi kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan masing-masing tahapan B-A-G-J-A dari tayangan video yang ada.
  3. CGP dapat mengidentifikasi peran pemimpin pembelajaran dari tayangan video.
  4. CGP dapat menganalisis modal utama apa saja yang dimanfaatkan contoh video praktik baik ini
Kira-kira apakah visi dari sekolah tempat guru dalam video tersebut mengabdi?
Menciptakan lingkungan belajar yang menyenangkan
Apakah prakarsa perubahan yang akan dilakukan oleh guru dalam tayangan video?
"Bagaimana menciptakan lingkungan belajar menyenangkan sesuai dengan minat murid?"
Apakah Pertanyaan Utama dari kegiatan yang dilakukan oleh guru dalam tayangan video tersebut?
Bagaimanakah kelas impian yang dapat menjadi penyemangat belajar murid saat kegiatan belajar mengajar?
Kegiatan/ tindakan apa yang dilakukan oleh guru dalam tayangan video yang menggambarkan tahapan:
Buat Pertanyaan

Guru mengajak murid berdiskusi tentang frasa yang tertulis di papan tulis yaitu "Penyemangat Belajar"

Ambil Pelajaran






Guru mengajak siswa untuk membentuk kelompok, mengunjungi dan mengamati kelas lain, melakukan tanya jawab dengan peserta didik lain tentang kelas mereka dan mendiskusikan hasil pengamatan dengan kelompok kemudian menyimpulkan hal yang disukai dari kelompok lain.

Gali Mimpi
Guru mengajak peserta didik untuk membayangkan kelas impian mereka dengan menutup mata dalam dua menit, peserta didik membuat sketsa kelas impian mereka dengan bahan yang telah disediakan, mempresentasikan hasil diskusi yaitu sketsa kelas impian dan membahas hasil presentasi

Jabarkan Rencana
Guru mengajak berdikusi tentang daftar yang dibutuhkan untuk mewujudkan keinginan peserta didik, membagi tugas dalam kelompok dalam melaksanakan kegiatan yang telah direncanakan dan menentukan waktu pelaksanaan rencana kegiatan.

Atur Eksekusi
Peserta didik mengerjakan tugas sesuai dengan hasil kesepakatan dengan bekerja sama dalam mewujudkan kelas impian yang telah direncanakan.

Apa peran pemimpin yang tergambar dalam tayangan video?
Prakarsa perubahan memerlukan peran pemimpin dalam proses pelaksanaan mewujudkannya. Berikut analisis peran pemimpin dan video tersebut
  1. Guru menggunakan pendekatan berbasis aset yaitu dengan berusaha membuka pemahaman dan kesadaran yang ada melalui kekuatan dalam berkolaborasi
  2. Guru mengarahkan peserta didik untuk fokus pada kekuatan kelas dalam mewujudkan impiannya.
  3. Guru sebagai pemimpin pembelajaran mampu memetakan sumber daya yang ada di sekolah sesuai dengan kompetensi untuk mewujudkan kelas nyaman dan menyenangkan sehingga menjadi penyemangat belajar
  4. Guru mampu mewujudkan suasana kelas yang nyaman sesuai tujuan masing-masing siswa dengan bekerja secara bersama-sama (kolaborasi)
Apa saja modal utama yang dimanfaatkan oleh pemimpin pembelajaran dalam tayangan video? lalu bagaimana pemanfaatannya?
Guru sebagai pemimpin pembelajaran mampu memanfaatkan berbagai aset yang dimili sekolah dengan berbagai pendekatan, salah satunya pendekatan pengembangan komunitas berbasisi aset. Dalam video tersebut menunjukkan beberapa aset yang dimanfaatkan dalam mewujudkan prakarsa perubahan yang telah dibuat yaitu:
Modal manusia : Guru untuk mengarahkan, memfasilitasi dan mewujudkan kelas impian. Peserta didik yang mampu membuat desain kelas impian dengan segala hal yang diperlukan misalnya hiasan, kursi yang tertata rapi, adanya rak buku dan kebersihan kelas yang terjaga.
Modal sosial : Lingkungan sekolah yang saling mendukungm kerjasama, harmonis dan hubungan yang sehat yaitu dengan melakukan pengamatan kelas lain juga adanya kolaborasi yang baik antara guru. Lingkungan ini menjadi aset yang berpotensi mewujudkan tujuan/ visi bersama.
Modal fisik : Tersedianya ruang kelas, buku paket di perpustakaan, meja, kursi, papan tulis, alat tulis dan lainnya. Pemanfaatannya dengan memanfaatkan perlengkapan yang ada untuk menciptakan kelas yang nyaman.
Modal finansial : Tersedianya peralatan dan perlengkapan yang dapat digunakan untuk membuat hiasan kelas sehingga menjadi kelas impian yang telah didiskusikan.

Demikian tugas ini saya susun. Kritik dan saran bisa dituliskan di kolom komentar. Terima kasih
Salam Guru Penggerak.

Kamis, 19 September 2024

Koneksi Antar Materi 2.2 Pendidikan Sosial Emosional


 

Assalamualaikum....

Pembelajaran Sosial Emosional adalah pembelajaran yang dilakukan secara kolaboratif oleh seluruh komunitas sekolah. Proses kolaborasi ini memungkinkan anak dan orang dewasa di sekolah memperoleh dan menerapkan pengetahuan, keterampilan dan sikap positif mengenai aspek sosial dan emosional.

Hasil penelitian penerapan PSE terbukti dapat meningkatkan kompetensi sosial dan emosional, terciptanya lingkungan belajar yang positif, peningkatan sikap positif dan toleransi murid terhadap dirinya, orang lain dan lingkungan sekolah. Selain itu, PSE di kelas terbukti dapat menghasilkan pencapaian akademik yang lebih baik. PSE memberikan pondasi yang kuat bagi murid untuk dapat sukses dalam berbagai area kehidupan mereka di luar akademik, termasuk kesejahteraan psikologis (wellbeing) secara optimal.

Gambar 1. Hasil Pencapaian Penerapan PSE

Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa PSE berperan penting dalam proses perkembangan karakter peserta didik dalam mencapai kesuksesan di masa depan dengan karakter yang berbudi luhur. Karakter yang diharapkan adalah dapat memahami, menghayati dan mengelola emosi (kesadaran diri), menetapkan dan mencapai tujuan positif (pengelolaan diri), merasakan dan menunjukkan empati kepada orang lain (kesadaran sosial), membangun dan mempertahankan hubungan yang positif (keterampilan berelasi) dan membuat keputusan yang bertanggung jawab (pengambilan keputusan yang bertanggung jawab)

Tujuan ini dapat dicapai dengan menerapkan PSE di sekolah dengan pembelajaran eksplisit, terintegrasi pembelajaran akademik atau melalui penciptaan budaya sekolah. Kolaborasi di sekolah, keluarga dan komunitas dapat mewujudkan lingkungan sekolah yang nyaman, aman dan positif bagi peserta didik karena penerapan PSE yang berkelanjutan. 

Materi pada modul 2.2 memiliki keterkaitan dengan materi pada modul sebelumnya yaitu
Modul 1.1 Filosofi KHD tentang pendidikan yang menuntun peserta didik sesuai kodratnya untuk mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya dapat ditempuh dengan menerapkan PSE. Kelima kompetensi yang ada pada PSE dapat dijadikan pondasi bagi peserta didik untuk menjadi pribadi yang berbudi pekerti luhur.
Modul 1.2 Nilai dan guru penggerak sangat berkaitan erat dengan PSE. Guru dapat menumbuhkan nilai dan peran pada guru dan murid dalam pengelolaan emosi seningga nilai kemandirian dalam pembelajaran yang berpusat pada murid serta peran guru penggerak sebagai pemimpin pembelajaran dan mendorong kolaborasi dapat tercapai dan berjalan seimbang.
Modul 1.3 Materi PSE dapat digunakan untuk mewujudkan visi guru penggerak yaitu lingkungan nyaman, aman dan positif yang tercipta merupakan pendukung perwujudan visi yang dibuat.
Modul 1.4 Keterkaitan modul ini adalah dalam penerapan PSE di sekolah yang dapat dilakukan dengan cara pengajaran eksplisit, terintegrasi pembelajaran akademik dan menciptakan iklim kelas dan sekolah. KSE yang telah diterapkan dalam keseharian guru dan peserta didik akan mendukung terciptanya budaya positif di sekolah.
Modul 2.1 Pembelajaran berdiferensiasi merupakan salah satu cara guru untuk menciptakan kelas yang nyaman bagi peserta didik karena dirancang untuk menerima segala kekurangan dan kelebihan masing-masing karakter peserta didik di dalamnya. Adanya pembelajaran berdiferensiasi membuat guru menjadi lebih mudah dalam menerapkan PSE di sekolah.

Sebelum mempelajari modul ini saya berpikir pendidikan sosial emosional tidak jauh berbeda dengan pendidikan karakter yang dicantumkan pada rencana pelaksanaan pembelajaran pada kurikulum sebelumnya. Namun, untuk PSE terdapat pengelompokan yang lebih spesifik sehingga penerapannya lebih jelas dan terarah.
Setelah mempelajari modul ini ternyata, penerapan PSE tidak terintegrasi pada pembelajaran di kelas saja namun dapat dilakukan secara berkesinambungan di sekolah, keluarga dan komunitas. Metode ini menjadikan kelima kompetensi sosial emosional menyatu dengan kehidupan peserta didik.

Berkaitan dengan kebutuhan belajar yang aman, nyaman untuk memfasilitasi seluruh individu di sekolah agar dapat meningkatkan kompetensi akademik maupun kesejahteraan psikologis (well being), 3 hal mendasar dan penting yang saya pelajari adalah:
1. Kegiatan mindfulness yang dapat digunakan untuk memfokuskan kegiatan peserta didik.
2. PSE dapat meningkatkan kompetensi sosial, emosional dan akademik peserta didik.
3. Pentingnya kolaborasi pihak sekolah dan orang tua dalam menerapkan PSE

Berkaitan dengan nomor 2, perubahan yang akan saya terapkan di kelas dan sekolah bagi murid dan rekan sejawat yaitu :
1. Bagi Murid : menyusun rencana pembelajaran yang mengintegrasikan kompetensi sosial emosional sehingga peserta didik memiliki kesempatan untuk melatih dan merefleksikan kompetensi sosial emosional dengan cara yang sesuai dengan perkembangannya.
2. Bagi Rekan Sejawat : menjadi teladan dan mengajak rekan sejawat berkolaborasi dalam menerapkan kompetensi sosial emosional sesuai dengan kemampuan yang dimiliki.

Salam Guru Penggerak.




Selasa, 17 September 2024

Demontrasi Konstektual 2.2 Pembelajaran Sosial Emosional


 Assalamualaikum...

Berikut ini merupakan RPP yang terintegrasi dengan Kompetensi Sosial Emosional yang saya susun pada mata pelajaran Matematika Fase A Kelas 1 dengan materi pembelajaran tentang penjumlahan sampai dengan 20. 

Kritik dan saran bisa dituliskan di kolom komentar.


Sabtu, 14 September 2024

Jurnal Refleksi Dwi Mingguan Modul 2.2 Pendidikan Sosial Emosional


Assalamualaikum...

Jurnal Dwi Mingguan ini saya susun menggunakan metode 4F (Fact, Feeling, Finding dan Future.

FACT (Peristiwa)

Pembelajaran modul 2.2 diawali dengan mulai dari diri pada tanggal 3 September 2024. Materi tentang Pendidikan Sosial Emosional bertujuan untuk mewujudkan lingkungan aman dan nyaman untuk peserta didik pada akhirnya mewujudkan well being (kesejahteraan psikologis). Kondisi nyaman, sehat dan bahagia merupakan kondisi individu yang memiliki sikap yang positif terhadap diri sendiri dan orang lain, dapat membuat keputusan dan mengatur tingkah lakunya sendiri, dapat memenuhi kebutuhan dirinya dengan menciptakan dan mengelola lingkungan dengan baik, memiliki tujuan hidup dan membuat hidup mereka lebih bermakna serta berusaha mengeksplorasi dan mengembangkan dirinya.

Konsep kompetensi sosial emosional berdasarkan CASEL (Collaborative For Academic, Sosial and Emotional Learning) yaitu 

  1. Memahami, menghayati dan mengelola emosi (kesadaran diri)
  2. Menetapkan dan mencapai tujuan positif (pengelolaan diri)
  3. Merasakan dan menunjukkan empati kepada orang lain (kesadaran sosial)
  4. Membangun dan mempertahankan hubungan yang positif (keterampilan berelasi)
  5. Membuat keputusan yang bertanggung jawab (pengambilan keputusan yang bertanggung jawab)
Ruang kolaborasi yang dilaksanakan tanggal 6 dan 9 September 2024 mendiskusikan tentang ide-ide implementasi KSE pada pembelajaran. Hasil diskusi menguatkan pemahaman tentang penerapan KSE yaitu dapat dilaksanakan di kelas, sekolah, keluarga dan komunitas.

Ruang Kolaborasi 2.2

Pada minggu ini juga dilaksanakan Pendampingan Individu 3 pada hari Sabtu, 7 September 2024. Kegiatan berlangsung dengan lancar yaitu tentang refleksi kegiatan yang telah dilakukan sampai pada modul 2.2 Moment ini juga digunakan untuk berbagi tentang pelaksanaan BAGJA dengan Ibu Fika, Pengajar Praktik kelas 40A. BAGJA yang telah disusun mengambil topik tentang pemanfaatan literasi digital di rumah dan di sekolah dengan latar belakang kodrat zaman dan kodrat alam yang tidak terlepas dari peralatan digital yaitu gawai. BAGJA bisa di baca di sini.

Pendampingan Individu 3

Akhir minggu ini juga dilaksanakan Lokakarya 3 di SMAN 1 Tempeh pada tanggal 14 September 2024. Kegiatan dipenuhi dengan keceriaan dengan agenda pembelajaran tentang praktik pembelajaran berdiferensiasi, mindfullness dan KSE. Banyak materi dan ice breaking bermanfaat yang didapatkan karena CGP di kelas berasal dari jenjang pendidikan berbeda yaitu SD, SMP dan SMA. Pengalaman baru diperoleh saat bapak ibu guru dari SMA/SMKN mempraktikkan pembelajaran di kelas yang metodenya tidak jauh berbeda dengan SD namun lebih variatif. Metode yang menarik didapatkan salah satunya yaitu Galeri Wall yang disampaikan oleh Ibu Lilis, Guru SMKN 1 Tempeh. 

Lokakarya 3

 FEELING (Perasaan)
Kompetensi sosial emosional tanpa sadar telah diterapkan pada pembelajaran selama ini namun tidak tertulis secara eksplisit. Faktanya materi ini bukan hal baru sehingga saya merasa mudah dalam mempelajarinya. Hal yang perlu saya kembangkan berkaitan dengan KSE adalah mengelompokkan kegiatan pembelajaran yang diterapkan pada salah satu kompetensi yang didasarkan pada CASEL.
Adanya praktik Mindfullness juga membuat pelaksanaan kegiatan terjeda sejenak dan memberikan ruang untuk bernafas sehingga perasaan lebih terkontrol dan mengurangi rasa lelah dalam beraktivitas.
Saya juga merasa ada semangat untuk keluar dari zona nyaman yaitu memulai kegiatan BAGJA berkolaborasi dengan peserta didik, rekan sejawat dan orang tua.

FINDING (Penemuan)
Penerapan pembelajaran KSE dapat dilaksanakan di kelas, sekolah, keluarga dan komunitas dengan menggunakan berbagai indikator yaitu :
Kelas : pengajaran eksplisit, pembelajaran akademik yang terintegrasi KSE dan pelibatan suara murid.
Sekolah : Iklim kelas yang mendukung, berfokus pada KSE pendidik dan tenaga kependidikan dan dukungan yang terintegasi berkelanjutan
Keluarga dan komunitas : Pelibatan kemitraan dengan orang tua dan kemitraan dengan komunitas.

Pembelajaran yang terintegrasi dengan KSE pada dasarnya telah diterapkan pada pembelajaran sehari-hari namun sekarang pengelompokkannya dan indikator pencapaiannya lebih jelas dan terarah.  Misalnya pelaksanaan mindfullness dengan Tehnik STOP yang bisa membuat perasaan peserta didik lebih tenang dan menyadari keberadaan dirinya, pembagian kelompok yang bisa meningkatkan kompetensi keterampilan berelasi juga pengambilan keputusan yang bertanggung jawab dengan metode POOCH (Problem, Options, Outcomes, Choices)

Analisis lebih lanjut Pendidikan Sosial Emosional berkaitan erat dengan 6 dimensi Profil Pelajar Pancasila.


FUTURE (Penerapan)
Urgensi penerapan KSE memberikan gambaran penerapan pembelajaran harus dikembangkan dengan memperhatikan Kompetensi Sosial Emosional dengan tetap fokus pada pencapaian tujuan pembelajaran. Saya akan berusaha menerapkan pembelajaran yang menekannkan pada salah satu atau beberapa KSE untuk kelas rendah dengan harapan pembelajaran tetap berlangsung efektif. 
Contoh ide pembelajaran yang akan saya terapkan adalah pelaksanaan tekhnik STOP pada waktu-waktu tertentu dan pembelajaran menggunakan metode diskusi.

Demikian Jurnal Dwi Mingguan pada kesempatan kali ini. 
Salam Guru Penggerak Angkatan 11
CHARDIANA SARININGTIYAS, S. Pd. SD


Rabu, 04 September 2024

Koneksi Antar Materi Modul 2.1 Pembelajaran Berdiferensiasi


Assalamualaikum...
Tidak ada anak yang benar-benar sama sekalipun kembar identik. Setiap anak memiliki ciri khas masing-masing begitu pun dengan murid-murid kita. Mereka memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing sehingga guru perlu strategi dalam melaksanakan pembelajaran untuk memenuhi kebutuhan belajar setiap murid salah satunya yaitu dengan pembelajaran berdiferensiasi.
Pembelajaran berdiferensiasi adalah usaha guru dalam menyesuaikan proses pembelajaran di kelas untuk memenuhi kebutuhan belajar individu murid artinya pembelajaran disusun dengan tujuan mendukung semua murid. Dukungan ini akan menciptakan kelas yang nyaman bagi murid untuk belajar dan yang terpenting adalah tujuan pembelajaran tercapai.
Langkah-langkah yang dapat dilakukan guru dalam melaksanakan pembelajaran berdiferensiasi yaitu dengan memahami tujuan pembelajaran, mengetahui dan merespon kebutuhan belajar murid, menciptakan lingkungan yang mengundang murid untuk belajar, melakukan manajemen kelas yang efektif dan penilaian berkelanjutan.
Kebutuhan belajar murid yang perlu diperhatikan oleh guru yaitu 
  1. Kesiapan belajar murid. Guru harus melakukan penilaian awal untuk mengetahui pengetahuan yang telah dimiliki oleh murid berkaitan dengan materi yang akan dipelajari.
  2. Minat murid. Setiap murid memiliki minat yang berbeda. Guru harus memperhatikan hal ini karena minat adalah motivator penting bagi murid untuk ikut aktif dalam pembelajaran.
  3. Profil belajar murid yaitu lingkungan, budaya, gaya belajar dan kecerdasan majemuk yang berbeda.
Data tentang kebutuhan belajar murid dapat diperoleh dengan berbagai cara yaitu 
  1. Mengamati perilaku murid
  2. Mengidentifikasi pengetahuan awal
  3. Mereview dan melakukan refleksi praktik pembelajaran
  4. Berbicara dengan guru murid sebelumnya
  5. Membaca rapot murid di kelas sebelumnya
  6. Melakukan berbagai penilaian diagnostik dan formatif.
Strategi yang dapat dilakukan dalam melaksanakan pembelajaran berdiferensiasi adalah diferensiasi proses, diferensiasi konten dan diferensiasi produk. Guru dapat memilih salah satu dari ketiga diferensiasi tersebut atau mengkombinasikan ketiganya. Adapun penerapannya sebagai berikut : 
  1. Diferensiasi konten berkaitan dengan apa yang diajarkan seperti materi, konsep atau keterampilan yang perlu dipelajari berdasarkan kurikulum. Mendiferensiasi konten dengan membedakan pengorganisasian atau format penyampaiannya bukan mengubah atau menurunkan standar kurikulum diferensiasi.
  2. Diferensiasi proses berupa kegiatan yang memungkinkan murid berlatih dan memahami atau memaknai konten dengan cara membedakan proses yang harus dijalani oleh murid.
  3. Diferensiasi produk berupa bukti yang menunjukkan apa yang murid pahami dengan cara membedakan/ memodifikasi produk sebagai hasil belajar murid, hasol latihan, penerapan dan pengembangan apa yang telah dipelajari. 
Keterkaitan materi pembelajaran berdiferensiasi dengan materi sebelumnya adalah  
Modul 1.1 Untuk dapat melakuan pembelajaran berdiferensiasi maka guru harus berusaha memenuhi kebutuhan anak sesuai dengan kodrat alam dan kodrat zaman sesuai dengan filososfi Ki Hajar Dewantara.
Modul 1.2 Guru dapat menerapkan nilai dan peran guru penggerak dalam melaksanakan pembelajarn berdiferensiasi yaitu berpihak pada murid, reflektif, kolaboratif, mandiri dan inovatif untuk menciptakan kegiatan pembelaaran yang dapat memenuhi kebutuhan murid sehingga dapat mewujudkan kepemimpinan murid. 
Modul 1.3 Pembelajaran berdiferensiasi dapat menjadi salah satu strategi untuk mewujudkan visi guru penggerak yaitu pembelajaran yang berpihak pada murid
Modul 1.4 Keyakinan kelas berperan penting untuk mewujudkan situasi pembelajaran yang kondusif sehingga guru pembelajaran berdiferensiasi yang dilaksanakan dapat menerapkan nilai-nilai budaya positif.

Demikian koneksi antar materi yang dapat saya susun.

Salam Guru Penggerak.

Senin, 02 September 2024

Demonstrasi Konstektual Modul 2.1 RPP Pembelajaran Berdiferensiasi


 

Assalamualaikum...

Rencana pelaksanaan yang saya susun pada mata pelajaran Matematika kelas 1 dengan materi pokok pasangan bilangan menggunakan media kertas lipat sebagai titik-titik air hujan.

Kritik dan saran bisa ditulis di kolom komentar. Terima kasih.


Kamis, 29 Agustus 2024

Ruang Kolaborasi 2.1 Pembelajaran Berdiferensiasi


 Assalamu'alaikum...

Pembahasan tentang Pembelajaran Berdiferensiasi yang menantang guru untuk keluar dari zona nyaman, berinovasi dan selalu mengembangkan diri. Berikut ini merupakan hasil diskusi kelompok kami di ruang kolaborasi untuk modul 2.1.


Senin, 12 Agustus 2024

Ruang Kolaborasi Modul 1.4 Budaya Positif



 Assalamu'alaikum...

Berikut ini merupakan hasil diskusi di Ruang Kolaborasi Modul 1.4 tentang Budaya Positif.


Sabtu, 10 Agustus 2024

Jurnal Refleksi Dwi Mingguan 1.4 Budaya Positif


Gambar 1. Ruang Kolaborasi Budaya Positif

Assalamu'alaikum...
Jurnal refleksi dwi mingguan modul 1.4 tentang Budaya Positif saya susun menggunakan model 5 (4C) yaitu Connection, Challenge, Concept, Change.

Tanggal : 29 Juli - 10 Agustus 2024

Connection 

Dua minggu ini saya mempelajari tentang Budaya Positif. Budaya positif adalah perwujudan nilai-nilai, keyakinan-keyakinan dan kebiasaan-kebiasaan di sekolah yang berpihak pada murid dan bertujuan untuk membentuk murid yang bertanggung jawab dan berbudi pekerti luhur serta berakhlak mulia.

Budaya positif sekolah dapat terbentuk jika menerapkan disiplin positif yaitu menanamkan motivasi (intrinsik) seorang murid dalam menjalankan nilai, keyakinan dan kebiasaan di sekolah. Daya dukung lainnya yang diperlukan adalah kerja sama yang baik semua warga sekolah dalam menghayati dan menjalankan nilai kebajikan yang telah disepakati.

Gambar 2 Ruang Kolaborasi

Pembahasan seru terjadi saat ruang kolaborasi pada tanggal 6 dan 7 Agustus 2024 tentang 4 kasus dalam menerapkan posisi kontrol guru dan segitiga restitusi. Kegiatan ini memperjelas gambaran tentang cara menangani permasalahan dengan solusi bukan sekedar menghakimi yaitu dengan penerapan segitiga restitusi. Pemahaman tentang posisi kontrol guru yang harus diperankan dengan tepat dalam sebuah situasi supaya menumbuhkan motivasi instrinsik siswa dalam menjalankan disiplin positif.

Pada tanggal 6 Agustus 2024, saya melaksanakan Pendampingan Individu 2 bersama Ibu Fika dan membahas tentang materi pada modul sebelumnya yaitu Visi Guru Penggerak. Kegiatan ini melibatkan semua warga sekolah untuk membahas tentang kesesuaian visi sekolah dengan tujuan pendidikan pada zaman sekarang.

Challenge
Penerapan disiplin positif dengan membuat keyakinan kelas bersama murid kelas 1 memberikan tantangan tersendiri yaitu 
  1. Keyakinan kelas belum dibuat bersama oleh guru dan murid karena saya mengampu kelas 1 yang masih dalam tahap bermain dan tidak kondusif jika diajak berdiskusi.
  2. Menjaga konsistensi dalam mempraktikkan keyakinan kelas yang telah disepakati.
  3. Mejaga keseimbangan antara menerapkan keyakinan kelas dengan mempertahankan situasi kelas yang positif dan mendukung. Selama ini saya seringkali masih memberikan hukuman dan penghargaan sebagai motivasi untuk menjalankan disiplin positif. Hasilnya, pelaksanaan disiplin positif bergantung kepada guru karena motivasi intrinsik anak belum ada.
Concept
Konsep yang dapat saya pahami dari materi modul adalah
  1. Disiplin positif yaitu menumbuhkan motivasi intrinsik dalam diri murid dengan cara membuat keyakinan kelas yang disepakati bersama
  2. Kebutuhan Dasar Manusia yaitu memahami situasi dan kondisi murid merupakan hal penting sebelum seorang guru menilai seorang murid. Kegiatan indisipliner terjadi karena ada kebutuhan murid yang belum terpenuhi.
  3. Posisi Kontrol Guru yang terdiri dari penghukum, pembuat rasa bersalah, teman, pemantau dan manajer. Guru sebaikya menempatkan posisi diri sebagai manajer karena hal ini dapat meningkatkan motivasi intrinsik siswa dalam disiplin positif. Posisi ini dapat digambarkan dengan guru berbuat sesuatu dengan murid, mempersilahkan murid mempertanggunjawabkan perilakunya, mendukung murid agar dapat menemukan solusi atas permasalahannya sendiri.
  4. Segitiga Restitusi yaitu paradigma baru memecahkan masalah mengenai perilaku siswa dengan menerapkan tiga tahapan yaitu menstabilkan keadaan, validasi tindakan yang salah dan menanyakan keyakinan.
Change
Perubahan yang terjadi dalam diri saya yang ingin saya lakukan setelah mempelajari modul yaitu
  1. Perubahan paradigma. Murid melakukan pelanggaran memiliki alasan yang harus digali terlebih dahulu dan mengaitkannya dengan kebutuhan dasar manusia. Pertanggungjawaban berasal dari diskusi murid dan guru. Selama ini, penerapan disiplin hanya mengandalkan hukuman tanpa memperhatikan kebutuhan dan situasi murid. Setelah ini, saya harus lebih mencermati keadaan dan memberikan kesempatan pada murid untuk ikut serta dalam mempertanggungjawabkan perilakunya.
  2. Membuat keyakinan kelas dengan murid dengan mencari metode yang sesuai dengan anak usia dini.
  3. Memantau dan mengevaluasi pelaksanaan keyakinan kelas sehingga tercipta kelas yang nyaman dan aman bagi semua warga sekolah sehingga memberikan dampak baik bagi sekolah pada akhirnya.
  4. Berusaha memposisikan diri dengan tepat dan belajar bertahap untuk memposisikan diri sebagai manajer dalam menanamkan disiplin positif terhadap siswa.
  5. Menerapkan tahapan segitiga resistusi dalam menyelesaikan masalah murid yang melanggar nilai-nilai kebajikan dan keyakinan kelas maupun sekolah.

Gambar 3 dan4. Penerapan Disiplin Positif Berdoa Sebelum
dan Sesudah Belajar

Gambar 5. Penerapan Disiplin Positif datang tepat waktu
dan menghormati guru


Demikian jurnal refleksi dwi mingguan yang dapat saya susun.

Salam Guru Penggerak
Chardiana Sariningtiyas, S.Pd.SD
CGP Angkatan 11



Rabu, 31 Juli 2024

Koneksi Antar Materi Modul 1.3

 


Koneksi antar materi 1.3 adalah tentang cara mewujudkan nilai-nilai dan peran guru penggerak dalam pembelajaran yang berpusat pada murid dengan menggunakan manajemen perubahan Inkuiri Apresiatif.

Ki Hajar Dewantara menganalogikan guru sebagai petani yang merawat tanamannya. Bukan bertujuan untuk mengubah wujud benih yang ditanamnya akan tetapi hanya berpusat untuk menumbuhkan benih menjadi tanaman berkualitas. Peran guru hanya sebatas menuntun seorang anak menjadi manusia berbudi pekerti luhur yang akan mencapai kebahagiaan dan keselamatan setinggi-tingginya. Oleh karena itu, visi guru penggerak dipusatkan untuk memenuhi kebutuhan murid disesuaikan dengan kodrat alam dan kodrat zaman.

Visi guru penggerak dapat diwujudkan dengan menggunakan manajemen perubahan Inkuiri Apresiatif yaitu sebuah manajemen perubahan kolaboratif dan berpusat pada kekuatan (positif) dan bertahap. Tahapan dalam Inkuiri Apresiatif dalam Bahasa Indonesia disebut BAGJA (Buat pertanyaan, Ambil pelajaran, Gali mimpi, Jabarkan rencana, Atur eksekusi).

Peran pendidik dalam membuat visi adalah memberikan pandangan ke depan untuk mencapai tujuan pendidikan. Langkah-langkah yang ditempuh dengan mengidentifikasi kekuatan yang dimiliki oleh sekolah dengan merumuskannya menggunakan pendekatan manajemen perubahan IA. Visi saya sebelum mempelajari BAGJA adalah mewujudkan peserta didik yang unggul dalam prestasi, pelopor dalam IMTAQ dan IPTEK, disiplin dan bertanggung jawab dengan mengutamakan kebahagiaan dan keselamatan setinggi-tingginya sebagai manusia juga anggota masyarakat.

Setelah mempelajari modul 1.3 maka visi saya menjadi Mewujudkan generasi yang berkarakter mulia, mandiri dan memiliki keterampilan abad ke-21.

Analisa kekuatan yang dimiliki sekolah adalah murid yang memiliki gawai namun kurang dimanfaatkan untuk tujuan pendidikan. Aset ini menjadi pondasi saya untuk mewujudkan visi untuk memanfaatkan gawai yang dimiliki untuk literasi digital dengan menggunakan berbagai aplikasi perpustakaan digital gratis di play store.

Demikian koneksi antar materi modul 1.3 yang dapat saya susun.

Salam Guru Penggerak,

CHARDIANA SARININGTIYAS, S.Pd.SD



Senin, 29 Juli 2024

Demonstrasi Kontekstual Modul 1.3 Visi Guru Penggerak

Assalamualaikum.

Paradigma Inkuiri Apresiatif adalah pendekatan yang berfokus pada mencari dan mengapresiasi hal-hal positif dalam organisasi atau individu, serta membangun kekuatan tersebut untuk menciptakan perubahan positif. Pendekatan ini berpusat pada apa yang sudah berhasil dan bagaimana kita bisa mengembangkan lebih jauh. 

BAGJA merupakan gubahan tahapan Inkuiri Apresiatif sebagai pendekatan manajemen perubahan yang pertama kali diperkenalkan Cooperrider ke dalam langkan 4D (Discover, Dream, Design,Deliver), Cooperrider&Whitney,2005 yang kemudian dalam praktik selanjutnya tahapan discover dipecah menjadi define dan discover (Cooperrider et.al, 2008).


 Visi Guru Penggerak

 Mewujudkan generasi yang berkarakter mulia, mandiri dan memiliki keterampilan abad ke-21.

Pernyataan Prakarsa Perubahan

 

ASET

TANTANGAN

AKSI

PELAJARAN

Peserta didik yang memiliki handphone

Peserta didik yang memanfaatkan handphone untuk bermain game

Pembelajaran literasi menggunakan handphone

Peserta didik memanfaatkan handphone untuk kegiatan bermanfaat

 

Menerapkan pembiasaan membaca dengan literasi digital serta memfokuskan pada pengembangan nilai-nilai karakter dan keterampilan berpikir kritis.

Tahapan BAGJA

Buat Pertanyaan Utama

Pertanyaan

Tindakan

      Apa yang harus saya lakukan untuk menerapkan pembiasaan membaca dengan memanfaatkan literasi digital

      Mencari aplikasi yang bisa dimanfaatkan untuk membaca gratis yaitu Eperpusdikbud

      Berkolaborasi dengan kepala sekolah dan rekan sejawat tentang kegiatan membaca dengan memanfaatkan literasi digital

      Membaca literatur tentang kegiatan-kegiatan membaca dengan memanfaatkan literasi digital

 

 

Ambil Pelajaran

Pertanyaan

Tindakan

      Siapakah di sekolah/dll. yang mempunyai pengalaman pernah menjalankan pembiasaan membaca dengan menggunakan literasi digital?

      Aktivitas apa saja yang menurut anak-anak dapat digunakan untuk membaca dengan memanfaatkan literasi digital?

      Situasi apa yang dapat kita manfaatkan untuk melaksanakan pembiasaan membaca dengan memanfaatkan literasi digital?

      Keterampilan apa yang sudah saya miliki dan membantu saya untuk mewujudkan pembiasaan membaca dengan memanfaatkan literasi digital?

 

      Mencari contoh nyata bagaimana cara memanfaatkan literasi digital untuk kegiatan pembiasaan membaca

      Mewawancara/survei pengalaman/pendapat guru/KS/PS/murid/orangtua

      Menggali informasi tentang kegiatan peserta didik dalam memanfaatkan handphone.

 

 

Gali Mimpi

Pertanyaan

Tindakan

      Apakah kebiasaan-kebiasaan baru yang saya bayangkan jika peserta didik terbiasa membaca dengan memanfaatkan literasi digital?

      Bagaimana perasaan saya jika peserta didik terbiasa membaca dengan memanfaatkan literasi digital?

      Apa saja hal-hal baru yang bisa aku lakukan setelah peserta didik terbiasa membaca dengan memanfaatkan literasi digital?

      Apa hal-hal/sumberdaya yang kita bayangkan akan tersedia jika peserta didik terbiasa membaca dengan memanfaatkan literasi digital?

 

·       Peserta didik menjadi lebih mandiri, gemar membaca dan memanfaatkan handphone untuk hal yang bermanfaat.

·       Pembelajaran di kelas bisa menjadi menyenangkan dan penuh inovasi.

·       Menambah waktu pembiasaan membaca dengan memanfaatkan literasi digital.

 

 

Jabarkan Rencana

Pertanyaan

Tindakan

      Apa langkah paling sederhana/langkah pertama yang bisa dilakukan?

      Berapa lama target untuk mencapai pembiasaan membaca dengan memanfaatkan literasi digital?

      Apa tindakan-tindakan yang bisa mendukung usaha mencapai pembiasaan membaca dengan memanfaatkan literasi digital?

      Bagaimana mengukur kemajuan dan melanjutkan langkah?

      Bagaimana cara untuk saling menyemangati usaha bersama mencapai pembiasaan membaca dengan memanfaatkan literasi digital?

 

·       Melakukan sosialisasi dengan wali murid

·       Membuat jadwal kegiatan yang terstruktur.

·       Membuat capaian yang realistis untuk setiap minggunya

·       Membuat catatan besar target yang akan dicapai per minggu dan memajangnya di kelas

 

 

 

Atur Eksekusi

Pertanyaan

Tindakan

    Siapa yang bisa mengarahkan dan memantau kegiatan pembiasaan membaca dengan memanfaatkan literasi digital?

    Siapa saja yang akan saya libatkan dalam mewujudkan rencana ini? Berperan sebagai apa saja?

    Kapan kegiatan pembiasaan membaca dengan memanfaatkan literasi digital dapat dimulai?

    Bagaimana pencatatan kemajuan kegiatan pembiasaan membaca dengan memanfaatkan literasi digital dilakukan?

    Siapa yang akan menampung keluhan tentang kekurangan kegiatan pembiasaan membaca dengan memanfaatkan literasi digital?

 

    Berdiskusi dengan kepala sekolah tentang pelaksanaan kegiatan

    Berkolaborasi dengan teman sejawat dan wali murid tentang pelaksanaan kegiatan

    Membuat grup khusus pelaporan kegiatan

    Kegiatan dilakukan dengan jadwal yang sudah dibuat

    Membuat buku jurnal membaca yang diisi secara mandiri

 

 

 

 Demikian Demonstrasi Kontekstual saya untuk modul 1.3

 Salam Guru Penggerak.

 CHARDIANA SARININGTIYAS,S.Pd.SD

Total Tayangan Halaman